liburan

Bersahabat dengan Alam – Bersahabat dengan Kamu

Siapa sih yang tidak suka dengan alam? Pastilah semua orang menyukai alam dengan sejuta keunikannya. Allah telah menciptakan alam begitu indah. Sudah sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah Allah sediakan untuk umatnya. Bahkan tugas kita sebagai khalifah di bumi adalah memakmurkan dan melestarikan bumi.

Lalu apa yang dimaksud dengan Tadabbur Alam? Tadabbur alam adalah kegiatan mensyukuri dan mengakui ke Maha Besaran Allah yang telah menciptakan langit dan bumi besarta isinya. Dengan tadabbur alam dapat meningkatkan keimanan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Akan menambah rasa syukur, jika kita tadabbur alam bersama orang yang kita sayang. Misalnya bersama keluarga, atau bagi yang belum punya keluarga bisa bersama sahabat.

Sahabatku Cerminan Diriku

cermin
Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Ada pepatah yang mengatakan kalau jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Tapi menurutku bukan hanya jodoh yang seperti itu. Sahabat juga merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Sahabat itu beda ya sama teman. Sebutan teman biasanya digunakan untuk mereka yang kenal dengan kita tapi hanya tau sebatas nama.

Sedangkan sahabat kalau menurutku dia adalah orang yang mengerti hampir semua cerita hidup kita. Memang bukan semua hal sih. Tapi kebanyakan kalau dengan sahabat itu apa-apa diceritakan. Mau gimana lagi, memang sudah merasa cocok satu sama lain.

Bisa jadi kita menganggap sahabat itu lebih dari sahabat. Eh gimana sih? Maksudnya kita mengaggap dia itu layaknya saudara. Tidak ada hubungan darah tapi bisa sedekat itu, ya itulah sabahat.

Proses peralihan dari kata teman menjadi sahabat itu sering tidak kita sadari. Tau-tau sudah nyaman dan lama-kelamaan apapun yang berkaitan dengan kita itu hampir sama. Makanya aku sering menganggap kalau sahabat itu adalah cerminan dari diri kita sendiri.

Sahabat Layaknya Saudara

kartunmuslimah
Gambar oleh https://imggram.org

Seperti yang aku rasakan selama ini, aku memiliki banyak teman tapi hanya beberapa yang bisa disebut sahabat. Oh iya menyinggung kata-kata yang aku tulis diatas bahwa sahabat bisa menjadi layaknya saudara, itu aku rasakan bukan ke semua sahabatku.

Ada satu nama yang kusebut dia sahabat tapi layaknya saudara. Siapa dia? Emm sebut saja dia Bulan (nama samaran). Aku menganggap Bulan susah seperti saudaraku sendiri, kita juga seumuran. Kita memiliki sifat yang sama, yaitu pediam, pemalu, penakut. Terutama jika berhadapan dengan orang tidak kenal, pastilah kita bingung sendiri dan hanya bisa diam.

Apa itu gara-gara aku jarang keluar rumah ya? Bisa dibilang aku tidak pernah keluar rumah kecuali saat ada tugas kelompok (masa sekolah) dan saat kerja. Orang tua memang tidak memperbolehkan keluar jika tidak ada hal penting. Maka dari itu kalau ingin keluar itu harus mempersiapkan alasan yang tepat gitu supaya dapat ijin dari orang tua.

Orang tua si Bulan pun seperti itu. Jadi kita keluar kalau ada acara Majelis Sholawatan saja. Itupun baru diberi ijin pas sudah lulus sekolah. Pernah sih kita jalan bareng, tapi ya ke tempat wisata yang tidak jauh dari rumah. Orang tua kita sudah sama-sama percaya kalau kita ijin pergi berdua.

Memperjuangkan ACC dari Orang Tua

baby-child-family
Photo by Andreas Wohlfahrt from Pexels

Suatu ketika aku dan Bulan pengen banget pergi untuk liburan membaur dengan alam bebas. Saat itu kita merencanakan untuk pergi ke pantai, tapi belum terfikir pantai mana. Nah, secara tiba-tiba sehabis lebaran kita ingat rencana mau liburan itu. Rencana pengen liburan sebenarnya sudah lama banget sih, tapi ya gitu kita sama-sama tidak berani meminta ijin orang tua.

Saat itu waktunya sudah mepet banget, karena H+8 lebaran aku sudah harus masuk kerja lagi. Malam itu kita mulai menyusun rencana lewat chat Whatsapp. Kita bingung mau pergi sama siapa saja. Kita chat teman-teman siapa yang bisa ikut kita liburan ke pantai. Banyak sih yang pengen ikut, tapi mereka ada yang bilang mau mengajak pacarnya, terus ada yang bilang belum punya SIM, ada juga alasan tidak berani naik motor sendiri. Huh kan ribet banget.

Aku dan si Bulan memang sudah berencana untuk naik motor saja karena itu lebih gampang. Karena kalau mau menyewa travel waktunya sudah terlalu mepet, susah juga carinya. Akhirnya kita memutuskan untuk meminta ijin dari orang tua dulu dan meminta pendapat mereka bagaimana baiknya. Alhamdulillah dengan mudahnya orang tuaku memberiku ijin (karena perginya dengan si bulan haha).

Keesokan harinya pada hari Senin kita rundingan menentukan hari dan pantai tujuan. Kita disarankan untuk menyewa travel agar orang tua bisa ikut. Tapi kalau menyewa travel bisanya hari Kamis, sedangkan aku hari itu sudah harus masuk kerja. Aku hanya bisa hari Selasa, karena hari Rabu ada acara. Aku bilang ke Bulan bagaimana kalau hari Selasa tapi naik motor karena travel tidak memungkinkan.

Aku pasrah menunggu keputusan dari bulan. Jika memang dia tidak diijinkan ya sudahlah rencana ini hanya jadi wacana. Bulan tidak berani meminta ijin orang tuanya karena kita perginya hanya berdua. Pantai tujuan juga lumayan jauh berada di kota orang.

Hari sudah malam, sebentar lagi hari sudah berganti selasa dan Bulan belum memberi kabar. Ya sudahlah aku tinggal tidur saja karena aku sudah berfikir kalau rencana ini tidak akan terwujud. Dan ternyata ketika bangun pagi aku buka gadget ada chat dari Bulan. Alhamdulillah ternyata dia diberi ijin dari orang tuanya.

Senang banget akhirnya jadi liburan. Padahal saat itu belum ada persiapan apapun. Jadi kita pergi jam 7 pagi hanya membawa baju ganti. Rute perjalanan saja juga mengandalkan google maps. Super nekat memang ahaha.

Kebahagiaan yang Haqiqi

kartun persahabatan
Gambar oleh https://www.anakcemerlang.com

Saat berangkat kita sempat tidak percaya kalau kita dapat ijin untuk liburan sendiri. Karena banyak yang menganggap kita berdua masih kecil padahal sudah lulus sekolah. Itu karena postur tubuh kita yang kecil kali. Kita sebenarnya berani untuk pergi sendiri, tapi mungkin orang tua yang tidak tega.

Bahkan saat masih di perjalanan Bulan ditelfon sama ibunya karena khawatir kita sudah bisa sampai tempat tujuan atau belum. Ini memang pengalaman pertama kita perjalanan jauh sekitar 3 jam dengan rute berkelok-kelok naik turun hanya berdua. Sedikit ngeri sih saat dibonceng, eh ternyata saat gantian bonceng lebih ngeri lagi. Tapi Alhamdulillah kita sampai lokasi dengan selamat.

Melihat hamparan pasir putih yang luas, birunya air laut, dan luasnya langit seakan-akan telah membayar rasa lelah selama perjalanan. Saat itu pun kita juga masih belum terlalu percaya kalau kita benar-benar sudah berada di kota orang yang jauh dari rumah. Rasa bahagia sekaligus rasa syukur yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Menyaksikan ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan.

Tak menunda-nunda setelah parkir motor kita langsung jalan-jalan menyusuri pantai. Kita berhenti di sebuah batu karang untuk mengambil foto (biasalah cewek suka foto-foto). Saking senangnya sampai-sampai kita tidak sadar ada ombak datang dan mengguyur kita setinggi lutut. Parahnya lagi kita lupa tidak melepas sepatu, haduuh padahal baru saja sampai. Anggap saja itu sebagai sambutan dari alam hehe.

Saat sampai disana wisatawan belum terlalu banyak. Kita dapat melihat indahnya pantai tanpa terhalangi oleh para pengunjung. Kita juga bebas mengambil foto. Tapi kita sedikit bingung mau foto bareng tidak ada yang memotret. Melihat di sekeliling rata-rata wisatawan berlibur dengan rombongannya, sedangkan kita hanya berdua saja. Malu mau minta tolong orang untuk motret kita hehe.

Eloknya Alamku

sunset
Gambar oleh David Mark dari Pixabay

Setelah menyusuri setiap titik di pantai tersebut, kita hanya duduk berdua menghadap pantai sambil berbincang berbagai hal. Salah satunya kita juga berbincang perihal Kebesaran Allah yang ditampakkan dari keeleokan alam sekitar. Terutama pantai yang ada dihadapan kita yang telah membius berpasang-pasang mata.

Tak lupa disana kita juga senandungkan sholawat sembari mengagumi nikmat Allah. Niatnya kita pengen bikin video cover sholawat dengan background pesona cantiknya pantai gitu. Tapi apa daya suara kita berdua yang tidak mumpuni. Jadi videonya buat koleksi di gadget masing-masing saja ahaha.

Tak terasa kita disana sampai sore. Kita pulang sekitar pukul 15.30. Kita mampir dulu membeli ikan laut untuk oleh-oleh orang tua di rumah. Saat diperjalanan arah ke barat kita juga menjumpai senja. MasyaAllah begitu menakjubkan pancaran sinar matahari yang tergores di langit membentuk perpaduan warna alami. Kita pulang membawa kenangan indah dari alam.